Apakah Batuk Bisa Menyebabkan Kematian? : Panduanibu

Apakah Batuk Bisa Menyebabkan Kematian?
Apakah Batuk Bisa Menyebabkan Kematian
Apakah Batuk Bisa Menyebabkan Kematian
Share ke Facebook Share ke Twitter
PanduanIbu.com – Jika melihat orang tersayang terserang batuk, alangkah kasihannya. Terlebih jika batuk itu terus-menerus sehingga anak sulit tidur. Acara makan pun bisa jadi muntah lagi atau tersedak. Makanan atau susu yang sudah masuk ke dalam perutnya keluar, maka jika berkelanjutan fisiknya akan melemah dan daya tahan tubuhnya menurun. Kemudian penyakit lain pun mengakrabi anak. Maka, meski hanya sedikit, batuk harus ditangani secara cepat dan cermat.

Batuk sebenarnya merupakan reflek dari tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam saluran nafas. Sesuatu ini bisa berupa lendir atau benda-benda asing yang dapat membuat tubuh berusaha untuk mengeluarkan benda tersebut. Pada anak-anak, batuk juga merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing yang masuk. Apabila terdapat debu dan kotoran pada saluran pernafasan, maka daerah di saluran pernafasan akan memberikan informasi kepada otak untuk mengeluarkan kotoran tersebut. Untuk melakukan pengeluaran ini dengan mekanisme batuk.

Meskipun merupakan sebuah mekanisme perlindungan tubuh, bila terlampau sering maka tentu saja akan mengganggu pernafasan. Batuk dengan durasi yang panjang dapat mempengaruhi organ sehingga mengalami peradangan. Hal ini yang lebih membahayakan karena adanya infeksi.

Secara umum terdapat 3 jenis batuk yang banyak dijumpai yaitu:

Batuk berdahak disertai dengan gangguan pernafasan.
Batuk tanpa dahak disertai dengan gangguan pernafasan.
Batuk tanpa dahak dan tiada gangguan pernafasan.
Dua jenis batuk pertama kemungkinan juga tanda-tanda penyakit yang tidak berkelanjutan, tanda-tanda ini terjadi ketika terjangkit virus pada saluran pernafasan. Batuk yang berlebihan terutama jenis batuk tanpa dahak dan tidak ada gangguan pernafasan umumnya menimbulkan rasa sakit yang cukup berat pada tenggorokan.

Merujuk kepada ketiga jenis batuk di atas ahli farmasi atau dokter akan dapat menentukan jenis obat yang tepat digunakan. Biasanya pengobatan yang dilakukan sendiri tanpa mengetahui jenis batuk serta jenis obat yang tepat digunakan. Tidak ada satu formula obat batuk yang dapat digunakan untuk mengatasi semua jenis batuk di atas. Oleh karena itu pengguna harus mengetahui jenis batuk yang diderita.

 

Batuk pada balita paling banyak terjadi akibat infeksi saluran nafas dan alergi. Ada dua infeksi saluran nafas, yaitu infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran nafas bawah. Batuk yang disebabkan infeksi saluran nafas atas seringkali lebih ringan. Sebagai contoh, karena flu, amandel, atau radang tenggorokan.

Sementara batuk yang disebabkan infeksi saluran nafas bawah seringkali agak lebih berat, misalnya pada penderita pneumonia. Adapun batuk yang disebabkan alergi seringkali terjadi pada penderita asma. Selain itu, batuk juga bisa terjadi karena aspirasi, yaitu masuknya cairan atau benda asing ke paru-paru. Sebagai contoh, tersedak yang disebabkan masuknya cairan, yang paling sering adalah susu, atau benda-benda lain.
Pada anak-anak yang lebih besar, batuk juga disebabkan karena sinusitis, yakni radang di rongga sinus yang merupakan rongga di dalam- hidung. Seringkali hal ini terjadi pada anak-anak berusia di atas 5 tahun, karena sinus seringkali mulai berkembang sampai seseorang berusia 5 tahun. Gejala awal batuk di antaranya batuk, mulut berbau, atau bernafas lewat mulut.

Batuk kronis adalah batuk yang berlangsung selama atau lebih dan 14 hari atau berulang. Disebut batuk berulang apabila batuk berlangsung selama 3 kali episode berturut-turut dalam 3 bulan. Sebagai contoh, anak batuk pada bulan Maret, April dan Mei secara berturut-turut. Atau batuknya hanya sekali, misalnya hanya pada bulan Maret saja, tetapi berlangsung selama 14 hari atau lebih. Kedua batuk ini disebut batuk kronis berulang atau BKB dan ini harus dicurigai sebab seringkali merupakan gejala adanya suatu penyakit. BKB membutuhkan penanganan khusus. Dengan demikian, harus dibawa ke dokter untuk dicari penyebabnya dan untuk penanganan lebih lanjut.

Pada balita, BKB bisa merupakan gejala dari penyakit TBC, asma, atau batuk rejan. Penyebab asma yang paling sering adalah alergi atau tidak tahan terhadap zat yang dapat merangsang tubuh untuk bereaksi. Sebagai contoh: debu, asap, rokok, kapuk dan bulu binatang peliharaan. Alergi juga terjadi pada makanan tertentu, seperti kacang tanah, cokelat, crispy. Bisa juga karena exercise yang berlebih, misalnya terlalu capek. Anak yang menderita asma, saluran nafasnya menyempit. Saluran nafas ini menyempit karena otot-ototnya mengkerut, saluran nafas bengkak, atau produksi lendir yang terlalu banyak. Apabila anak mengalami asma, yang harus dilakukan adalah menghindari hal-hal atau makanan yang bisa menyebabkan saluran nafas sesak. Setelah itu, beri obat yang dapat melonggarkan saluran nafas. Apabila perlu, beri obat yang dapat mengurangi inflamasi. Lazimnya, apabila. dilakukan secara teratur selama 6 bulan setiap hari secara rutin, 80% pasien akan sembuh dan 20% akan tetap sampai anak dewasa.

Penyebab BKB berikutnya adalah TBC yang disebabkan oleh kuman. Berbeda dengan orang dewasa, batuk pada balita bukan merupakan gejala utama TBC. Selain batuk, gejala lain perhatikan adalah nafas yang lama, berat badan yang tidak naik, terdapat penderita TBC di sekeliling anak dan nafsu makan berkurang. Apabila gejala-gejala ini terjadi pada anak, kemungkinan memang terkena TBC. Adapun pertusis adalah batuk rejan atau batuk seratus hari yang disebabkan oleh kuman juga. Seringkali batuknya tidak berlendir dan hebat, sampai-sampai anak tidak bisa menarik nafas. Batuk akut seringkali lebih ringan. Misalnya karena flu, radang tenggorokan, atau tersedak. Seorang balita memang akan terkena flu, batuk, atau radang tenggorokan sekitar 5 sampai 6 kali setahun. Ini normal saja, tetapi batuknya tidak lebih dari 14 hari dalam satu episode. Meski ringan, tetapi orang tua patut hati-hati. Pasalnya, ada penyakit yang ditandai oleh batuk akut, misalnya pneumonia.

Pneumonia adalah suatu radang atau infeksi paru-paru yang seringkali disebabkan oleh kuman atau bakteri. Pada balita bahkan dapat menyebabkan kematian. Perhatikan selain batuk, pneumonia seringkali juga ditandai oleh sesak nafas, panas tinggi dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Tetapi yang paling utama adalah sesak nafas.

Anak usia di bawah 2 bulan, frekuensi nafasnya tidak boleh lebih dari 60 kali per menit. Usia 2 – 12 bulan, frekuensi nafasnya 50 kali per menit dan usia 1 – 5 tahun frekuensi nafasnya 40 kali per menit. Anak usia di bawah 2 bulan yang frekuensi nafasnya lebih dari 60 kali dalam satu menit, harus segera dibawa ke dokter, karena kemungkinan dia menderita pneumonia.

Penyebab batuk akut bisa karena infeksi, baik infeksi karena bakteri atau karena virus. Infeksi yang disebabkan karena bakteri, seringkali ditandai dengan panas tinggi, tenggorokan merah dan seperti bengkak. Atau jika diperiksa darahnya, leukosit atau sel darah putihnya meningkat. Dengan demikian, harus diobati dengan antibiotik.

Sumber :